Salah Siapa?

Mencari nafkah untuk menghidupi keluarga adalah tanggung jawab orangtua tentunya.

Itu juga yang dilakukan oleh orang tua Ani, seorang siswa kelas 4 SD.

Dengan profesi orangtuanya sebagai petani, membuat Ani sangat bangga. Mengapa? Karena petani lah yang memberi makan semua manusia. Entah dia orang kaya, orang miskin, pejabat, pengemis, orang tua, anak-anak, siapa saja. Itulah yang membuatnya bangga.

Sebuah lahan kecil yang juga adalah milik orang, orang tua Ani menanam beberapa jenis tanaman. Seperti jagung, sayur, tomat dan cabe. Kalau musim hujan tiba, lahan itu yang akan digunakan untuk menanam padi.

Saat itu, tiba musim penghujan. Semua petani di desa itu sibuk menanam padi.

“Pa, Ma. Ani juga nanti ikut menanam padi, ya.” Katanya dengan senyuman manis di pipinya.

“Ia, nak.” Kata Papanya, sembari mengelus kepala Ani.

 

Setelah beberapa bbulan, ketika padi mulai mengeluarkan pulir nya, banyak sekali hama yang menyerang sawah-sawah para petani. Sehingga membuat padi-padi itu banyak yang tak mempunyai isi berasnya.

Tiba musim menuai, banyak petani yang mengeluh karena hasil yang didapat mereka tidak seperti biasanya. Begitu juga dengan orangtua Ani.

“Hm, padahal Ani akan dapat banyak beras. Dasar, hama ini buat rugi saja.” Kata Ani dengan kesal.

“Tidak apa-apa, nak. Nanti kan kita bisa tanam padi lagi.” Kata Ibu nya.

 

Keesokan harinya, setelah Ani pulang sekolah, cepat-cepat dia mengganti pakaian sekolahnya. Belum sempat dia makan, dia sudah pergi.

Mengenakan kaos usang dan celana pendek biru. Tak menggunakan sandal. Membawa sebuah karung dan penampi. Entah kemana.

Saat ibu nya pulang untuk beristirahat siang itu, mereka sangat kaget karena pakaian sekolah Ani berserakan. Tidak seperti biasanya.

“Ani…Ani…” Panggil ibunya dengan khawatir.

Namun tidak ada jawaban. Ibunya mencoba memanggil beberapa kali lagi. Namun tetap tidak ada jawaban.

Ibunya mulai takut. Ibu nya pergi ke rumah tetangganya namun Ani tidak ada disana. Ibunya mulai menangis. Ibu nya berlari-lari ke sawah, sambil mencoba memanggil-manggil nama Ani.

“Aniiii….Aniiiii…”

Tidak ada jawaban.

 

Dari kejauhan, si ibu melihat sesosok tubuh kecil, mengenakan baju putih dan celana pendek biru, yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu di tumpukan batang-batang padi di sawah orang yang sudah dipanen. Dia langsung mengenal sosok kecil itu. Itu Ani.

 

Cepat-cepat si ibu menghampiri sosok kecil itu, dan melihat Ani yang sedang mengumpulkan pulir-pulir padi dari bekas padi yang sudah dipanen orang (karena menggunakan mesin untuk memisahkan batang padi dan pulirnya, maka ada kemungkinan beberapa pulir padi yang terselip di batang-batang padi itu).

 

“Ani, apa yang sedang kamu lakukan, Nak?”

“Eh, Mama. Ini, Ma. Coba lihat. Ani sedang mengumpulkan pulir-pulir padi, Ma.” Sambil menunjukkan pulir-pulir padi yang dia taruh dalam karung.

Ibunya membuka karung itu, dan melihat pulir-pulir padi yang dikumpulkan Ani. Air mata menetes di pipi ibunya. Semua pulir-pulir padi yang dikumpulkan oleh anaknya ternyata tak berisi satu pun.

“Ayo kita pulang, nak.” Ajak ibunya.

“Ma, tunggu dulu. Ani mau membantu Papa sama Mama mencari makan. Kan panenan kita kurang baik kali ini.”

“Sudah lah, nak.” Besok lagi.”

 

Ibunya memeluk Ani dengan erat, sambil menangis dan membawa anak nya ke rumah.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s