Kejamnya hidup

Kesehariannya diawali dengan menyiapkan makanan ala kadarnya untuk anak-anaknya, yang masih berusia 6 tahun dan 12 tahun. Hidup menjanda sudah dia lalui sejak 10 tahun silam. Ketika suaminya detembak mati ketika tidak mampu membayar hutang 125 ribu.

Bekerja sebagai penyapu jalan raya yang digaji sebesar Rp. 12.500,- per hari, sehingga anak pertamanya hanya disekolahkan sampai kelas 3 SD.

Sepiring nasi, dia siapkan sebelum pergi bekerja. Itupun hanya dengan garam ataupun dua potong tempe kecil kalau ada, untuk kedua anaknya. Dia sendiri tidak makan. Hanya membawa sebotol air minum untuk mengalas perutnya.

“Ini upahmu hari ini.” Kata seorang petugas kebersihan kota sambil menyodorkan dua lembar uang lima ribuan.

“Kok hanya ini, pak?”

“Ah, sudah bersyukur kamu digaji. Pergi!”

 

Sudah pukul 14.00, wanita tua itu mendekati sebuah warung kecil, dan menyodorkan satu lembar uang lima ribuan dan penjaga warung itu mengembalikan empat ribu rupiah. Wanita itu membeli satu roti kecil untuk mengalas perutnya. Dia melanjutkan perjalanannya, pergi ke pasar untuk membeli beras.

“Pak, berapa harga sekilo?”

“Sebelas  ribu, bu.”

“Bisa tidak pak, uang saya sembilan ribu saya minta sekilo?” Sambil memohon.

“Waduh, tidak bisa, bu. Semuanya mahal.”

“Tolong lah, pak. Beras saya dirumah sudah habis. Saya harus memberi makan kedua anak saya.”

“Ibu ini, saya sudah bilang. Tidak bisa, bu.”

 

Air mata membasahi pipi wanita tua tadi. Tidak ada makanan untuk kedua anaknya besok hari. Apa lagi perutnya juga sudah berteriak meminta makanan.

 

Sesampainya dirumah, belum sempat menarik napas, anak bungsunya merengek.

“Mak, kok gak ada lauknya?” Setetes air mata kecil jatuh dari matanya.

“Besok ya, nak. Makan dulu yang ada.” Bujuk ibunya.

Hari itu terasa lama berlalu. Malam itu mereka semuanya tidak ada yang makan. Kedua anaknya hanya makan pagi. apalagi ibunya, satu roti kecil yang mengalas perutnya.

Tengah malam, ibu itu terbangun karena mendengar “musik” aneh dari perut kedua anaknya.

“Ya, Tuhan. Tolonglah kami. Jangan biarkan kami mati kelaparan.” Doanya dalam hati.

 

Sambil penuh berharap, akan adanya sedekah esok harinya, si ibu melanjutkan tidurnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s