All is Well

Lahir dan dibesarkan di sebuah keluarga sederhana, adalah hal yang patut disyukuri. Mengapa? Karena masih ada begitu banyak orang yang tak seberuntung aku.

Ada satu hal yang membuat ku bahagia. Melalui sebuah kutipan yang menarik:

Kehidupan

Mengawali pendidikan ku di sebuah universitas swasta, kebahagiaan ku hampir mencapai puncak. Aku sangat senang, walaupun datang dari keluarga petani sederhana, namun bisa mengecap pendidikan yang lebih tinggi.

“Ayah dan ibu tidak mempunyai apa-apa. Namun seberapa mampu, kami akan coba.” Pesan ayah pada ku.

“Terima kasih.”

Kaki ku mulai melangkah pelan meninggalkan desa kecil ku, tempat aku dibesarkan. Sepoi angin berhembus menimbulkan melodi indah dari pohon kelapa yang tumbuh di depan rumahku pagi itu.

Kebun kecil yang menghidupi ku selama ini, akan kutinggalkan. Hamparan sawah luas yang dikelolah oleh orangtua ku ku tatap dalam-dalam (Karena lahan itu adalah punya orang yang digarap orang tuaku. Kami pendatang, dan tak punya tanah sejengkal pun di tempat itu).

Perjalanan terasa sangat jauh. Karena lukisan indah desa kecil ku itu seakan ada di depan mataku. Hanya air mata yang dapat mengalir deras membasahi pipi ku.

Melihat tempat bersekolah ku, ku tarik napas dalam-dalam. Sambil berkata “All is Well, kan ku gapai apa yang menjadi impian ku.”

Suasana kota itu terasa sangat asing bagi ku. Belum ada seorang pun yang ku kenal. Aku pun tak tahu harus kemana. Aku berkenalan dengan seorang pria yang sudah satu tahun bersekolah di tempat itu, dia yang menunjukkan tempat untuk mendaftar.

Ku membuka tas kecil usang ku dan melihat uang yang ada. Hanya Lima Ratus Ribu Rupiah. Jantungku berdetak kecang. Langkah kaki ku enggan berjalan. Aku takut kalau aku akan diusir.

Ku paksakan kaki ku untuk melangkah, masuk kedalam kantor registar yang berjarak dua meter di depan ku untuk mencoba mendaftarkan diri di Universitas itu.

Ku ketuk pintu itu tiga kali. Tok..tok…tok…

“Masuk”. Terdengar suara seorang ibu di dalam.

Ibu itu terlihat sibuk di depan komputernya. Rambutnya yang gimbal, menggunakan kacamata, berumur sekitar 40an. “Sangar kah dia?” Tanya ku dalam hati.

“Ada apa?”

“Saya mau mendaftar, bu. Kira-kira berapa besar biaya untuk berkuliah disini?” Tanya ku dengan gugup.

“Kamu ingin masuk di jurusan apa?”

“Kedokteran, bu.”

“Oh, apalagi. Itu butuh uang yang sangat banyak.”

Jantung ku berdenyut makin kencang, apa lagi yang ingin dia katakan? Tanyaku dalam hati.

“Berapa uangmu?”. Tanya ibu itu lagi.

“Hanya lima ratus ribu, bu.”

“Apa? Lima ratus ribu? Untuk apa itu? Kalau mau mengambil jurusan kedokteran itu, butuh dua puluh lima juta rupiah!.”

Aku merasa kalau jantung ku berhenti berdetak beberapa saat. Ku tak tau apa yang harus aku buat. Sedangkan uang yang ku punya hanya itu saja.

“Lalu, apakah saya tidak bisa mendaftar, bu?”. Tanya ku lagi.

“Tentu saja. Minimal kamu harus membayar 50% untuk semester ini.”

50% dari mana lagi uangnya? Aku bingung, tak bisa membuka mulut ku. Keringat keluar seperi air yang mengalir dari gunung. Aku cepat-cepat keluar dari ruangan itu. Langkah ku makin cepat. Tiba-tiba, aku berhenti. Kenapa? Aku tidak tahu aku harus kemana. Ku cari pintu masuk ke Universitas itu, dan aku cepat-cepat keluar. Pergi, dan menghilang.

Ku mencari telepon umum di tempat itu, dan mencoba untuk menghubungi siapa saja yang ku kenal. Dengan harapan, ada yang mau menolong ku.

“Ia, selamat pagi.” Terdengar seseorang menyapa ku dari telepon itu.

“Emm…. Se…selamat pagi, pak. Bisakah bapak…”

Tut…tut…tut…. Tiba-tiba percakapan kami terputus.

Hmmm…Ku tarik napas ku dalam-dalam. Otak ku terasa berputar untuk mencari cara untuk bisa mendaftar. Bekerja, ya bekerja. Mungkin dengan cara itulah aku dapat mendapatkan uang untuk mendaftar lagi.

Di depan ku kulihat sebuah bangunan toko dan mencoba masuk untuk mendapatkan pekerjaan.

“Pak, bisa kah saya bekerja disini?” Tanya ku pada pemilik toko itu.

“Untuk seusia mu tidak ada, nak.”

“Saya mohon, pak. Pekerjaan apapun itu, akan aku kerjakan semampuku.”

“Baiklah, kamu harus bagun jam lima pagi, dan tidur pukul sepuluh malam. Kamu harus membantu pekerja-pekerja itu (sambil menunjuk ke orang-orang yang sedang membuat cetakan batako).”

“Baik, pak. Terima kasih.”

Sejak hari itu, aku terus bekerja keras untuk bisa berkuliah. Hari-hari terasa sangat cepat. Hingga tak terasa, satu tahun sudah berlalu dan ku terima semua upah ku.

“Terima kasih banyak, pak. Aku dapat berkuliah sekarang.”

“Sama-sama. Bersekolah laah dengan baik. Gapai apa yang kau impikan.”

Ku melangkah dengan penuh keyakinan, menuju universitas yang satu tahun lalu aku coba mendaftarkan diri tapi belum diterima alasan finansial. All is Well.

Aku masuk ke kantor registar, ku daftarkan diri sebagai seorang calon dokter. Perjalanan ku telah dimulai. Namun, aku tahu, aku harus tersendat dengan masalah uang. Namun, apa pun itu, aku tahu, All is Well.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s