Pluit

Sebuah keluarga berekonomi lemah tinggal di perkampungan yang jau dari kota. Jadi, untuk membeli keperluan yang mereka perlukan, butuh perjalanan selama satu hari jalan kaki. Itupun dalam dua bulan, sekali mereka pergi ke kota.
Cukup dikatakan bahagia, karena keluarga dengan pekerjaan gembala ini memiliki seorang anak gadis berumur 18 tahun. Diana, panggilan untuk anak ini. Dianalah yang biasanya menjaga kambing milik keluarga mereka di ladang.
Ketika hendak berangkat dari rumahnya, Diana membawa sebuah “pluit” yang terbuat dari bambu, yang biasa dia gunakan untuk memanggil kambing-kambing yang dijaganya. Begitu pluit itu dibunyikan, maka kambing-kambing itu akan berkumpul dan akan diberi minum oleh Diana. Begitu juga yang dia lakukan saat akan membawa kambing-kambingnya ke kandang.
Siang itu, udara terasa panas. Diana berteduh dibawah rindangan sebuah pohon.
Ketika dia sedang beistirahat, timbul pemikiran di hatinya “Hmm…sekiranya saya pergi ke kota, pasti kehidupan saya akan berubah. Pasti saya akan mendapatkan uang yang banyak.”

Diana memutuskan, untuk memberitahu orangtuanya.
“Ma, Diana mau pergi ke kota.”
“Untuk apa, nak? Bukankah bapak dan ibu mampu menghidupimu disini?” Sahut ibunya.
“Ma, aku ingin mendapatkan uang yang banyak dengan bekerja di kota. Pasti ekonomi keluarga kita bisa membaik.”
“Ibu sebenarnya berat. Tapi, kalau itu keputusanmu, pergilah.” Jawab ibunya sambil menyapu air matanya yang mengalir.
Ibunya berjalan ke kamar, dibukanya lemari reot miliknya. Dia mengambil sebuah dompet tua, dan memberikannya kepada anaknya.
“Mungkin ini bisa membantumu.”
“Makasih, ma.”
Dengan membawa tas kecil berisi beberapa potong pakaian, dia berjalan ke kota.
Matanya berbinar-binar melihat keramaian kota. “Wah, pasti aku akan mendapat uang yang banyak disini.” Pikirnya dalam hati. Gadis ini menuju sebuah toko pakaian, dibelinya sepasang pakaian baru dan dipakainya. “Hm, tampaknya lebih baik dari sebelumnya.”
Namun, dia tidak tahu, harus pergi kemana. Dengan langkah kai yang penuh keragu-raguan, dia terus berjalan dikeramaian kota. Hari sudah mulai gelap. Anak perempuan ini menghentikan langkahnya disebuah gedung tua. Terdengar suara musik yang kencang, dan lampu yang redup. Dengan hati-hati, dia memberanikan dirinya untuk masuk. Dilihatnya banyak anak-anak seusianya yang sedang berpesta dan minum-minum. Wajahnya yang polos menunjukkan kegembiraan. “Mungkin disini aku bisa mendapatkan uang” Katanya dalam hati.
Namun, dia tidak tahu, bagaimana caranya mendapatkan uang. Dengan perlahan, dia menghampiri seorang gadis seusianya.
“Apakah disini saya dapat memperoleh pekerjaan” Tanya Diana
“Bisa, sangat bisa. Apalagi seusiamu.”
Wanita tadi membawanya ke sebuah kamar kecil, keorang pemuda yang ada disitu.
“Dia akan memberimu pekerjaan” Kata wanita tadi
“Terima kasih, ya.”

Pemuda itu memberi segelas minuman yang tidak pernah diminumnya. “Apa ini?” Tanya Diana.
“Minum saja.” Jawab pria itu.

Malam itu, telah membuat sebuah cerita hidup baru bagi Diana. Dia mulai menikmati kehidupan yang baru dia temukan. Dia mulai ikut berpesta dan jatuh dalam dunia pelacuran.
Bertahun-tahun dia telah lewatkan dengan kehidupannya itu.

Sore hari, ketika langit terlihat cantik, dengan penuh warna oranye, Diana duduk sendirian. Kepalanya terasa pusing sangat. Dia terjatuh tak sadarkan diri. Saat dia membuka matanya, ternyata dia masih di tempat yang sama. Kepalanya terasa sakit, akibat terbentur di lantai saat pingsan tadi. Tidak ada seorangpun yang dia temui. Dia melihat ke atas. Tampak kilauan bintang dan cahaya bulan menerangi langit. Dia teringat kampung yang telah dia tinggalkan bertahun-tahun itu.
“Apakah kedua orangtuaku masih hidup?, apakah mereka masih mengingat dan merindukan aku?” Air matanya mulai membasahi pipinya. Mengapa teman-teman ku tidak ada yang mencariku? Tanyanya lagi. Mengapa aku bisa sampai kesini? Air matanya nya makin deras.
Isak tangis dan penyesalan membara dalam hatinya.
Dia kembali merenung dalam sebuah kamar kecil tak berpenghuni. Berhari-hari dia tidak makan. Dia hanya meneguk bir dan rokok. Tiada harapan dalam dirinya lagi.

Di tengah-tengah kota, terlihat sesosok tubuh renta berjalan dan sesekali menemui orang yang ditemuinya. “Apakah kamu melihat seorang gadis berumur 22 tahun dari desa?” Begitu pertanyaan yang sama dia tanyakan pada setiap orang yang dia temui. Namun, tak satupun yang tahu. Namun, di saku bajunya, ada sebuah pluit yang dia bawa dari kampungnya.
Dia menoba meniup pluit itu sekuat-kuatnya beberapa kali.
Hingga, pria renta ini berhenti di sebuah bangunan tua untuk beristirahat. Tubuhnya terlihat sangat letih. Tangannya mulai gemetar. Mencoba meraih pluit di saku bajunya. Dia meniup pluit itu beberapa kali.
Dibalik tembok gedung itu, muncul secerca cahaya. Diana yang sedang asyik meneguk minuman keras itu terdiam. Mencoba mendengar dengan teliti. “Itu bunyi pluit yang biasa aku tiup untuk memanggil kambing-kambingku.” Katanya seorang diri.
Dia beranjak berdiri, mencari asal suara pluit itu.
Dari kejauhan, dia melihat sesosok tubuh renta yang sedang duduk di depan bangunan tua. Dia berlari secepatnya menghampiri pria tua tadi yang masih meniup pluit itu. Dipeluknya erat-erat tubuh renta itu dan berkata “Pa, maafin Diana, ya.”
Air mata haru membashi pipi keduanya.
Pluit pemanggil kambing di kampung pria renta ini, kini telah memanggil pulang anaknya.

Kesimpulan: Seberapa juga kesalahan yang telah kita lakukan, Tuhan rela datang untuk mencari kita sambil berkata “Anak-Ku, pulanglah. Ayah merindukanmu.” Tuhan memberkati kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s