Sabat Hari Kenikmatan

“Tiada buku lain yang telah dipelajari dengan begitu cermat, yang telah mendasari penulisan sekian banyak buku lain, yang telah melahirkan banyak nyanyian, liturgi, renungan, khotbah, yang telah diserang habis-habisan, yang telah menggugah pembelaan yang agung, sebagaimana halnya Alkitab.” (James Orr)

Hari Sabat adalah hari yang sangat Aku dan kedua adikku nanti-nantikan. Kenapa? Karena Hari Sabat beda dengan hari lainnya. Kalau yang biasanya kami hanya makan dengan sawi, tapi hari sabat pasti ada menu spesial. Seperti tahu, tempe, ikan, rendang kacang merah. Wow…Pokoknya, Hari Sabat memang spesial.

Pastinya bukan hanya dirumahku saja.

Itulah sebabnya, setiap Hari Jumat sore, pasti suasana dirumah terlihat sibuk sangat. Bapak, ibu, aku, dan adik-adikku semuanya mengerjakan apa yang bisa dikerjakan.

Ibu pastinya di dapur. Menyiapkan bumbu-bumbu dan lauk. Ayah sedang sibuk mengisi air di kamar mandi. Adik keduaku membantu mengupas kelapa kering untuk diparut. Aku dan adikku yang bungsu membersihkan rumah.

Walaupun kami bertiga adalah anak laki-laki, namun untuk menyambut Hari Sabat, semuanya terlihat sibuk bekerja.

“Ayo, cepat..cepat.., langsung mandi ya setelah kerja.” Kata ayah kepada kami bertiga.

Ketika matahari mulai bersembunyi di peraduannya, semua pekerjaan telah selesai. Biasanya, ayah yang sudah duluan bersiap-siap, dan akan mulai bernyanyi. Disusul ibu. Karena kami bertiga maunya mandi belakangan. Jadinya kami hampir berkelahi, karena tidak ada yang mau mandi duluan.

“Ingat Hari Sabat, hari yang terindah..” Demikian kata-kata lagu yang dinyanyikan ayah.

Beberapa kali, ayah memanggil kami yang masih mengganti pakaian.

“Nak, ayo cepat.”

Barulah kami anak-anak masuk ke ruang tamu dan ikut bernyanyi. Suasana menyambut Hari Sabat terasa sangat menyenangkan dan hangat.

Biasanya, sebelum mendengar Firman, kami menghafal ayat kesayangan kami lebih dulu. Setelah Firman selesai dibawakan, kami bertelut dan berdoa. Setelah itu, saling bersalaman sambil mengucapkan “Selamat Sabat”.

Terasa sangat enak dan nikmat menikmati hari sabat. Apalagi waktu masih di bangku Sekolah Dasar.

 

Hari Sabat betul-betul adalah hari kenikmatan, seperti yang tertulis dalam Yesaya 58:13 “Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat “hari kenikmatan”, dan hari kudus TUHAN “hari yang mulia”; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong,”

Kata yang diterjemahkan kenikmatan berasal dari Bahasa Ibrani: Oneg (lembut, enak, sangat indah dan mewah).

Glen Robinson menuliskan tentang Sabat dalam artikelnya yang berjudul “Sabat adalah Sebuah Pesta”. Ia menuliskan, “Pesta adalah saat untuk meninggalkan semua pekerjaan yang membosankan, dan menyingkirkan kewajiban rutin. Demikian halnya juga dengan Hari Sabat adalah waktu berpesta, dimana kita menyediakan waktu untuk Tamu Surgawi. Sabat bukan hanya sekadar kewajiban yang membosankan, melainkan perayaan yang menggembirakan.”-Glen Robinson, The Signs of The Times, November 2003, hal. 18,19.

Nabi Yesaya menerangkan hari Sabat yang penuh dengan kenikmatan itu sangat jelas. Pada hari sabat, jangan menjalankan acaramu. Jikalau pada hari biasa kegiatan yang kita lakukan adalah kegiatan untuk diri sendiri, berpusat untuk menyenangkan diri, maka pada HariSabat itulah harus berbeda. Dimana Tuhan yang harus kita tonjolkan dan pusatkan perhatian kita.

Jangan melakukan urusanmu, hal ini berarti menngingatan kita bahwa sumber kehidupan dan kebutuhan kita adalah Yesus.

Pada Hari Sabat, kita harus meninggalkan pekerjaan untuk mencari nafkah atau urusan bisnis, tetapi sepenuhnya memusatkan semuanya, baik pikiran, perbuatan dan perkataan hanya kepada Yesus sebagai sumber kehidupan dan segala kebutuhan kita.

Hal ini menyatakan pengakuan bahwa segala sesuatu tanpa Yesus membuat kita sebagai manusia_entah dia kaya, miskin, berpendidikan atau tidak, punya jabatan atau tidak, pada dasarnya hanyalah seperti dan memang adalah debu dan hampa. Yesaya 40:15,17 “Sesungguhnya, bangsa-bangsa adalah seperti setitik air dalam timba dan dianggap seperti sebutir debu pada neraca. Sesungguhnya, pulau-pulau tidak lebih dari abu halus beratnya. Segala bangsa seperti tidak ada di hadapan-Nya mereka dianggap-Nya hampa dan sia-sia saja.”

Manusia tidak ada nilainya. Seperti uap yang mana akan hilang dalam hitungan beberapa detik.

Kisah Maria Magdalena, wanita pelacur yang tidak dipandang di masyarakat.

Lukas 7:37 “Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi.”

Maria Magdalena adalah wanita tuna susila yang tidak dipandang baik dimata masyarakat. Namun, pertemuannya dengan Yesus telah mengubah hidupnya. Yang tadinya dia adalah seorang berdosa, kini menjadi orang yang terselamatkan. Sehingga, Alkitab mencacat, saat Yesus bangkit dari kematian-Nya, Yesus mula-mula menampakkan diri kepada Maria Magdalena. Markus 16:9 “Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan.”

Hari Sabat adalah waktu dimana kita bertemuu dengan Yesus, yang dapat mengubah kita manusia celaka (Roma 7:24) menjadi umat kesayangan Allah.

apabila Hari Sabat dapat kita nikmati dengan tidak menjalankan acara yang berpusat pada diri sendiri melainkan kegiatan yang berpusat pada Yesus, maka Hari Sabat akan meningkatkan kualitas hidup baik secara fisik, rohani, sosial.

Berkat yang lebih indah lagi dijanjikan oleh Pencipta Agung itu. Yesaya 58:14 “maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut Tuhanlah yang mengatakannya.”

Hari Sabat tanpa kehadiran Yesus, hanya merupakan hari biasa bagi kita.

Bukankah Hari Sabat pemberian dari Allah kita untuk beristirahat? Hari Sabat memberikan kepada kita kesempatan untuk memperbaharui dan mengukuhkan kembali hubungan keluarga dan masyarakat.

Menjadikan hari sabat sebagai hari kenikmatan dapat berupa peragaan dari perbuatan kebajikan dan berbelas kasihan.

Pertemuan dengan Tuhan akan membuat suasana yang berbeda, hati kita akan berkobar-kobar saat hendak dan bertemu dengan-Nya. Kita juga akan merasa kalau waktunya terlalu singkat. Jika kita tidak memelihara Hari Sabat dan merasa kalau hari Sabat terlalu lama dan ingin cepat-cepat berkahir, berarti ada yang salah pada diri kita dalam memeliharanya.

2 thoughts on “Sabat Hari Kenikmatan

  1. Percuma mematuhi Hukum Keempat, bro… Kalau tidak mematuhi Hukum Ketiga terlebih dulu: Jangan menyebut nama Yahweh, Elohim-mu dengan sembarangan.

    1. Ya, benar. Satu hal yang perlu diketahui adalah bahwa semua hukum (10 Hukum) sama pentingnya.
      Penjelasan tentang perayaan sabat hanyalah dengan tujuan untuk menunjukkan bagaimana sebenarnya itu dirayakan, agar bukan menjadi kutuk bahkan menjadi berkat; bukan dengan sungutan melainkan dengan sukacita; bukan dengan terpaksa tapi karena cinta; bukan karena formalitas melainkan pernyataan ucapan syukur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s