Jasa “mereka”

Hari ini, udara terasa cukup panas. Padahal waktu baru menunjukkan pukul 10.00 pagi.

Terlihat dikejauhan, sorang pria berambut hampir putih dengan tubuh yang mulai bungkuk sempoyongan dan hampir jatuh, memikul pipa-pipa untuk mengairi kebunnya. Tiba-tiba, dia mendengar teriakan seorang wanita yang juga mulai berambut putih, dengan tubuh kurus “Heeeiii…berhenti, biarkan pipa-pipa itu disitu. Biar aku saja yang memikulnya”.

Wanita tua itu cepat-cepat berlari menemui pria tadi dan membantu memikul pipa-pipa tadi.

Kenapa wanita itu memarahi pria tersebut yang tidak lain adalah suaminya? Ternyata, pria itu sedang meringis kesakitan. Luka yang ada dibagian bawah ketiaknya membuat pria tadi tidak bisa tidur hampir semalaman. Bahkan, untuk berjalan saja terasa sulit. Badannya terasa panas di malam hari.

Namun, rasa tanggungjawabnya kepada anak-anak dan istrinya harus dia laksanakan. Itulah sebabnya, dia memutuskan untuk tetap bekerja.

Siang itu, pria tua itu kembali meringis kesakitan. Badannya terasa hangat. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah tuanya untuk beristirahat. Sedangkan wanita tua itu tetap berada di kebun.

Memikul pipa-pipa tadi, mengairi kebunnya yang adalah sumber kehidupan keluarga mereka, dan mencoba mencangkul beberapa bedengan untuk ditanami sayur.

Sewaktu-waktu, wanita tua itu berteduh dibawah pohon, karena terik matahari. Cepat-cepat dia selesaikan mengairi kebunnya, dan pulang ke rumah.

“Pak…pak..”.

“Ia, ma”.

Wanita tua itu langsung manuju ke kamar dan melihat kondisi suaminya. Badannya terasa makin panas. Wanita tua itu pergi ke dapur dan mengambil ember dan mengisinya dengan air dingin. Diambilnya juga sehelai kain, dibasahinya kain itu, dan menempel kain basah itu di kening pria tua itu, dengan tujuan supaya suhu tubuh pria itu menurun.

“Pak, sebentar sore ke dokter, ya”.

“Tidak usah, bu. Nanti sembuh juga, kok”.

“Tidak, pak. Pokoknya bapak harus berobat sebentar. Kalau bapak sakit begini siapa yang mau kerja, pak. Minta bantuan orang lain? Mana mungkin. Orang lain juga sibuk mengerjakan pekerjaan mereka. Kalau bapak sakit begini, berarti menambah beban saya juga, pak”.

Wanita itu bersaha membujuk suaminya untuk mau berobat ke dokter. Karena dari kemarin, pria itu menolaknya. Pria tua itu memang seperti itu. Dia selalu beralasan kalau nanti uang habis hanya untuk pengobatannya, sedangkan mereka harus membiayai anak-anak mereka yang sedang bersekolah.

Akhirnya, karena dipaksa istrinya, sore harinya pria tua itu menyetujui untuk berobat ke dokter. Sepulangya pria itu, wanita tua itu cepat-cepat menyiapkan sarapan untuk suaminya, supaya suaminya bisa langsung meminum obatnya.

“Ini, pak. Makanannya. Setelah minum obat, langsung istirahat ya, pak”.

“Makasih ya, ma.”

Malam itu, pria tua itu kelihatan dapat tidur dengan pulas.

Keesokan paginya, ketika wanita tua itu bangun, dia terkejut karena suaminya tidak ada.

“Pak…pak…”.

Namun tidak ada jawaban. Matahari kembali memberikan cahayanya. Wanita itu terus mencari suaminya. Wanita tua itu sangat terkejut, saat melihat suaminya yang telah bekerja di kebun.

Saat mendengar cerita itu, air mataku langsung menetes.

Mengenang bagaimana kedua orangtua ku yang telah bertarung melawan terik matahari untuk menghidupiku. Ku ceritakan itu pada anak-anakku untuk menghargai aku dan istriku, walaupun aku tidak berprofesi seperti kedua orangtuaku.

Kesimpulan: Ingatlah jerih lelah orangtua kita, yang sedang bekerja untuk kita dimanapun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s