Alam dan wahyu sama-sama menyaksikan kasih Allah. Bapa semawi kita adalah sumber kehidupan, kebijaksanaan dan kebahagiaan. Pandanglah benda-benda alam yang menakjubkan. Renungkanlah keperluan kita yang selalu diberikan oleh Allah kita. Sinar matahari dan hujan, yang menerangi dan menyegarkan bumi, bukit dan lautan serta lembah-lembah, semuanya berbicara kepada kita tentang kasih Allah kepada ciptaan-Nya.

Allah menciptakan manusia dalam kesucian dan kegembiraan yang sempurna. Pelanggaran terhadap hukum Tuhanlah yakni hukum kasih, yang membawa bencana dan kematian. Kendatipun demikian, ditengah penderitaan yang diakibatkan oleh manusia itu sendiri, Kasih Allah masih juga dinyatakan.

Allah telah mempertautkan hati kita pada-Nya dengan tanda-tanda yang tak terhitung jumlahnya di langit maupun dibumi. Melalui alam, Dia telah berusaha menunjukan diri-Nya sendiri kepada kita. Namun, semuanya itu belum cukup menunujukkan kasih-Nya kepada kita. Meski semua bukti telah diberikan, setan masih saja membutakan pikiran-pikiran manusia, supaya dengan begitu manusia memandang Allah dengan rasa takut; mereka (manusia) menganggap-Nya kejam dan tak berpengasihan.

Anak Manusia turun dari surga untuk menyatakan Bapa itu. “Tidak seorangpun yang melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya (Yoh 1:18). “Tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepada anak itu berkenan mnyatakan-Nya (Mat 11:27).

Dalam menggambarkan pekerjaan-Nya di dunia ini, Yesus menyatakan bahwa Tuhan telah “Megurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang buta, membebaskan orang-orang yang tertindas”. (Luk 4:18). Pekerjaan-Nya membuktikan bahwa Dia telah diurapi Ilahi. Kasih, kemurahan, dan belas kasihan dinyatakan dalam setiap perbuatan hidup-Nya; Dia bersimpati kepada umat mansia. Dia mengenakan sifat manusia, supaya Dia dapat memenuhi keperluan0keperluan manusia. Orang-orang yang paling miskin dan hina tidak takut menghadapi Dia. Bahkan anak-anak kecilpun tertarik kepada-Nya. Anak-anak itu senang naik ke pangkuan-Nya serta menatap wajah-Nya yang penuh pengasihan.

Demikianlah sifat Yesus, sebagaimana yang dinyatakan dalam hidup-Nya. Ini adalah sifat Allah. Dari hati Allah Bapa itulah, arus kasih sayang Ilahi-Nya, yang dinyatakan dalam Yesus Kristus, dan mengalir dalam hati umat manusia.

Yesus hidup dan mati untuk menebus kita. Dia menjadi Seorang yang penuh sengsara, supaya kita dapat turut ambil bagian dalam rahmat dan kegembiraan yang kekal itu. Allah memperkenalkan Anak yang diksihi-Nya (Yesus), penuh rahmat dan kegembiraan yang kekal. Lihatlah Dia di padang belantara, di Taman Getsemani, di atas kayu salib. Anak Allah yagn tidak bercela itu memikul diatas bahu-Nya beban dosa manusia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16).

Dia mengaruniakan Anak-Nya bukan hanya untuk hidup diantara manusia, untuk menanggung segala dosa-dosa kita dan mati sebagai korban kita. Yesus harus menyamakan diri-Nya dengan kepentingan dan keperluan umat manusia. Dia yang satu dengan Allah telah mengubahkan diri-Nya sendiri dengan anak-anak manusia dengan ikatan yang tidak akan pernah diputuskan. Yesus tidak malu menyebutkan kita sebagai “saudara” (Ibrani 2:11). Dialah korban kita, saudara kita, menggunakan bentuk kemanusiaan kita dihadapan Allah Bapa. Semua ini dilakukan supaya manusia dapat diangkat dri puing-puing kebinasaan dosa agar dengan demikian, manusia dapat memantulkan kasih Allah serta membagikan kegemiraan kesucian itu.

Harga yang telah dibayar untuk menebus kita, pengorbanan yang tiada batas dari Allah Bapa di sorga dengan mengaruniakan Anak-Nya mati untuk menebus kita.

Kasih demikian tiada bandingnya. Menjadi anak-anak Raja Surga! Janji yang amat mulia! Inti yang paling perlu direnungkan, Kasih Allah yang tiada taranya bagi satu dunia yang tidak mengasihi-Nya. Pikiran ini mempunyai suatu kuasa yang menaklukan jiwa dan membawa pikiran untuk takhluk kepada kehendak Allah. Semakin kita mempelajari sifat Allah dalam terang salib itu, semakin kita melihat kemurahan, dan kasih Allah.

About these ads